Presisi5.com || Gunungkidul–Kisah pilu seorang remaja perempuan asal Kelurahan Banjarejo, Kapanewon Tanjungsari, Gunungkidul sebut saja Bunga (14) dengan terpaksa harus menelan rasa trauma atas peristiwa dugaan pelecehan yang menimpanya yang dilakukan oleh STP (50) yang tidak lain masih memiliki ikatan saudara dari orang tuanya sendiri pada medio April 2026. Bunga dipeluk dan diraba di bagian dada oleh pelaku.
Ironisnya peristiwa tersebut tidak tersentuh oleh hukum, sehingga pelaku bebas berkeliaran tanpa melihat penderitaan berupa traumatik dari korban yang masih duduk di bangku SMP tersebut.
Menurut penuturan Anton, selaku Dukuh Jarah I saat dikonfirmasi pada Sabtu (16/5) membenarkan adanya desas-desus mengenai informasi terjadinya peristiwa pelecehan yang terjadi di wilayahnya, namun pihaknya mengetahui setelah antara kedua pihak telah memilih jalan damai untuk menyelesaikan masalah tersebut.
” Saya mendapat informasi tersebut justru dari rekan sesama dukuh, itu pun kira-kira selang satu hari setelah adanya penyelesaian secara damai antara kedua belah pihak “, jelas Anton.
Pihaknya menambahkan jika hal tersebut sempat dibahas oleh Jogoboyo Kelurahan Banjarejo, Toni yang mengaku jika pelaku sempat menemui Jogoboyo untuk meminta saran meski persoalan tersebut dianggap selesai.
” Jogoboyo menanyakan ke saya terkait penyelesaian yang dimaksudkan, namun saya jawab jika perangkat padukuhan ataupun warga lain tidak dilibatkan, justru kami janggal atas persoalan ini “, tuturnya.
Terpisah, Toni selaku Jogoboyo Kelurahan Banjarejo menampik tudingan jika pelaku sempat menemuinya, justru pihaknya mencari kejelasan terkait desas-desus kabar yang semakin santer di masyarakat dengan memanggil Dukuh Jarah I ke ruang kerjanya untuk memastikan kabar tersebut.
” Istilahnya jare-ture ( katanya ) sudah selesai, tapi saya tidak tahu menahu tentang penyelesaiannya, bahkan dukuh wilayah setempat pun tidak mengetahui apalagi kami di pemerintah kelurahan “, ujar Jogoboyo.
Ini merupakan salah satu dari sederet kisah kelam peristiwa kekerasan terhadap perempuan dan anak yang kembali terjadi di Gunungkidul, pelaku masih bisa leluasa karena hal semacam ini masih dianggap tabu jika dipublikasi, namun di balik semua itu ada perasaan korban yang tidak benar-benar terwakilkan untuk mencari keadilan, dengan terpaksa harus menelan kenyataan pahit berupa trauma psikis dan mental kejiwaan seumur hidupnya.
( Redaksi )

By admin