Presisi5.com || Yogyakarta — Pengalaman mengelola panggung seni kampus dibawa mahasiswa English Department Students Association (EDSA) Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (PBI UMY) ke ranah pemberdayaan masyarakat melalui Narasimha Sunset Show, salah satu program unggulan PPK Ormawa 2026.  Narasimha Sunset Show dikembangkan sebagai pertunjukan drama yang mengangkat cerita sejarah dan budaya lokal, sekaligus memadukannya dengan seni pertunjukan dan potensi pariwisata Sambirejo. Program ini menunjukkan bagaimana pengalaman organisasi mahasiswa dapat berkembang melampaui kegiatan internal kampus dan diarahkan menjadi program yang lebih relevan bagi masyarakat.

Hampir dua bulan setelah mahasiswa EDSA PBI UMY terjun ke Sambirejo sejak 15 Juli 2026, rangkaian PPK Ormawa yang mereka kembangkan bersama masyarakat akan mencapai puncaknya pada 5–6 September 2026. Rangkaian dimulai dengan Camping Kalcer di Watu Payung Sambirejo pada Sabtu, 5 September, yang diisi dengan Saras Swara, eksplorasi Watu Payung, pertunjukan penyambutan, hingga api unggun. Keesokan harinya, Minggu, 6 September, Sambirejo Temple Trail 2026 digelar pukul 06.00–10.00 WIB melalui rute jelajah sekitar 7,3 kilometer yang menghubungkan sejumlah situs budaya dan destinasi wisata Sambirejo. Rangkaian kemudian ditutup dengan Narasimha Sunset Show di Tebing Breksi pukul 16.30–17.30 WIB.

Gagasan Narasimha Sunset Show berakar dari E-Night, program tahunan EDSA PBI UMY yang menjadi ruang ekspresi mahasiswa melalui drama, musik, puisi, tari, dan berbagai pertunjukan kreatif. Di balik panggung, mahasiswa tidak hanya tampil, tetapi juga belajar menyusun produksi, membagi peran, mengelola acara, berkomunikasi, dan bekerja dalam tim.

Potensi itu semakin terlihat ketika Diajeng Kencono Ratri dipercaya menjadi Project Manager E-Night pada awal 2026 sekaligus pengurus harian EDSA PBI UMY. Ia melihat kekuatan E-Night tidak hanya terletak pada pertunjukannya, tetapi juga pada kapasitas mahasiswa di balik panggung, mulai dari manajemen acara, seni pertunjukan, komunikasi, kreativitas, hingga kolaborasi.

Diajeng yang sebelumnya pernah menjadi penerima pendanaan PPK Ormawa dan meraih penghargaan pada Abdidaya 2025, menilai mahasiswa PBI UMY memiliki potensi besar untuk berkompetisi dalam program pengabdian kepada masyarakat. Salah satu modalnya adalah keterlibatan mahasiswa dalam berbagai kegiatan pengabdian yang dilakukan dosen PBI UMY.

Dengan pengalaman tersebut dan pendampingan Puthut Ardianto, Diajeng bersama tim EDSA kemudian membawa modal organisasi dan kreativitas mahasiswa ke PPK Ormawa 2026. Diajeng berperan sebagai Steering Committee (SC), sementara Puthut mendampingi tim sebagai dosen pembimbing dengan keahlian di bidang Performative Pedagogy dan English for Tourism.

Puthut mengatakan, tahun ini merupakan tahun kelimanya mendampingi organisasi mahasiswa dalam program PPK Ormawa. Dalam tiga tahun di antaranya, tim yang didampinginya berhasil memperoleh pendanaan dari Belmawa.

“Narasimha Sunset Show menjadi salah satu bentuk konkret dari proses pengembangan soft skillsmahasiswa,” jelas Puthut, yang juga merupakan pendiri Savanna English Drama Club dan inisiator E-Night PBI UMY.

Menurutnya, keterampilan mahasiswa dalam membangun sebuah pertunjukan tidak seharusnya berhenti sebagai pengalaman organisasi. Kemampuan tersebut dapat dikembangkan menjadi bagian dari program pemberdayaan yang mempertemukan kapasitas mahasiswa dengan potensi budaya dan pariwisata masyarakat.

Perjalanan dari E- Night menuju Narasimha Sunset Show memperlihatkan bagaimana organisasi mahasiswa dapat menjadi ruang belajar yang nyata. Dari panggung akhir semester, mahasiswa belajar memimpin, mengelola sumber daya, bekerja dalam tim, dan membaca potensi di sekitarnya, lalu membawa pengalaman tersebut keluar kampus dalam bentuk program yang memberi manfaat lebih luas.

 

Red (Whyoe)

By admin