Presisi5.com || Gunungkidul–Tensi pemerintah Kalurahan Ngalang kembali memanas pasca pernyataan pengunduran diri Ketua Bamuskal Kalurahan Ngalang Panut Marwanto bersama jajarannya yang dituangkan dalam surat pernyataan pengunduran diri yang beredar di media sosial. Dalam kepanikan tersebut, pemerintah Kalurahan Ngalang merespon dengan mengadakan jajak pendapat menanggapi pengunduran diri Ketua Bamuskal bersama jajarannya dengan mengundang tokoh dan kader dari 14 Padukuhan se Kalurahan Ngalang pada Senin (12/10).

 

Pandangan dari perwakilan tokoh padukuhan se Kalurahan Ngalang tersebut sebagian besar menghendaki jika Ketua Bamuskal bersama jajarannya menyelesaikan masa jabatan hingga tahun 2027.

 

” Jika Bamuskal mengundurkan diri, tentu akan mempengaruhi kinerja pemerintahan Kalurahan Ngalang karena pada waktu dekat ini banyak agenda perumusan penting bersama Bamuskal, itu bagian dari keputusan jajak pendapat hari ini yang pada intinya tetap menginginkan Kinerja Bamuskal tetap lanjut “, ungkap perwakilan peserta jajak pendapat yang tidak mau menyebutkan identitasnya secara terang.

 

Sambutan Ketua Bamuskal Kalurahan Ngalang, Panut Marwanto dalam acara ini menyampaikan perihal pengunduran diri bersama jajaran anggota Bamuskal Kalurahan Ngalang dengan alasan sudah tidak sanggup lagi mengemban amanah sebagai Bamuskal, terlebih dalam kurun waktu ini Kalurahan Ngalang dihadapkan dengan polemik permasalahan dugaan pemanfaatan tanah Sultan Ground yang memunculkan gelombang protes warga hingga sampai ke Aparat Penegak Hukum.

 

” Mohon maaf apabila selama kami mengemban amanah sebagai Bamuskal Ngalang ini tidak sesuai dengan keinginan masyarakat, tapi kami sudah berusaha semaksimal mungkin, untuk itu dalam kesempatan ini kami ijin pamit untuk tidak lagi menjalankan tugas sebagai Bamuskal demi kondisi Ngalang yang tetap kondusif “, ucap Panut.

 

Sementara itu Lurah Ngalang, Suharyanta dalam sambutannya menyampaikan jika pihaknya menginisiasi acara ini untuk menepis kegaduhan yang terjadi di tengah masyarakat Ngalang agar tetap kondusif dan damai.

 

” Saya berharap bahwa acara ini dapat meredam polemik dimasyarakat menanggapi pengunduran diri Pak Panut beserta jajaran Bamuskal Kalurahan Ngalang “, ungkap Suharyanta.

 

Disela-sela sambutannya, Suharyanta berapi-api menyampaikan jika kondisi ini ditengarai oleh adanya dugaan tekanan dan ungkapan intimidatif terhadap kinerja Bamuskal yang disampaikan oleh sekelompok masyarakat.

 

” Saya khawatir jika kondisi ini akan seperti sejarah kelam di Kalurahan Ngalang pada tahun 1965 terulang kembali, saya khawatir karena peristiwa itu sudah muncul kembali di Balai Kalurahan Ngalang dengan tujuan untuk meruntuhkan pemerintahan ini, maka dari itu saya berharap bahwa masyarakat yang hadir pada acara hari ini menyampaikan aspirasi yang sebenarnya, demi lancarnya pemerintahan Ngalang. Jika ada pihak yang akan menghancurkan saya silakan, tapi jangan mitra kami di pemerintahan, saya tidak rela, saya siap berdiri kokoh untuk mempertanggungjawabkan semuanya selama masyarakat masih membersamai “, lanjutnya.

 

Turaji selaku Ketua Forum Ngalang Bersatu merespon dengan tanggapan atas sambutan Suharyanta yang dinilai sudah memprovokasi masyarakat dalam acara jajak pendapat di Aula Balai Kalurahan Ngalang dengan menyebut jika peristiwa 1965 akan terjadi kembali di Kalurahan Ngalang.

 

” Apa maksud Suharyanta dengan berstatment demikian, tentu ini menyulut dugaan provokasi. Justru ini malah semakin memperuncing permasalahan, bisa dilihat bahwa tidak semua warga yang hadir dalam forum tersebut paham terhadap permasalahan pemerintah Kalurahan Ngalang dan Bamuskalnya, maka kami menuntut klarifikasi atas pernyataan Suharyanta “, tegas Turaji.

 

( Redaksi )

 

 

By admin